Contoh dengan keterangan
| Pertanyaan/ permintaan | Keterangan tentang maksud pertanyaan/permintaan |
| Judul peristiwa | Beri judul dari peristiwa yang akan Anda ceritakan, dengan diawali nama Anda – agar Anda memahami bahwa ini adalah peristiwa Anda dan Anda terlibat penuh di dalam peristiwa itu.
Contoh: nama Anda adalah EKA. Karenanya judul peristiwanya adalah: EKA berhasil meng-goal-kan proposal playground di kompleks perumahan |
| Waktu dan durasi peristiwa | Tuliskan perkiraan waktunya. Tidak perlu terlalu tepat, namun jelas bulan dan tahunnya. Contoh: Awal Agustus – akhir September 2019 |
| Latar belakang peristiwa | Ini adalah tentang hal yang menyebabkan peristiwa yang Anda ceritakan itu terjadi. Misalnya:
Anak-anak usia TK kebawah belum memiliki arena bermain yang layak. Selama ini anak-anak (yang jumlahnya sekitar 15-20 kanak-kanak) bermain di halaman rumah-rumah warga dan ini bahaya. Sementara kita punya tanah fasos-fasum yang belum dimanfaatkan. |
| Orang-orang yang terlibat | Ini adalah tentang keterlibatan Anda dan orang lain dalam peristiwa ini. Misalnya:
Saya, ketua RT, ketua RW dan dua orang ibu yang sepikiran |
| Hasil akhir dari peristiwa ini | Ini adalah tentang hasil akhir dari peristiwa ini. Contoh:
Pembangunan playground disetujui dan akan segera dibangun. |
| Secara berurutan, langkah-langkah penting apa yang Anda lakukan untuk mencapainya
Catatan: · Pastikan Anda menggunakan kata “saya” ketika Anda sendirilah yang melakukan hal tersebut. · minimal 350 kata · maksimal 500 kata
|
Ini adalah bagian paling penting, dimana Anda menceritakan langkah-langkah yang Anda lakukan sejak awal Anda terlibat dalam peristiwa ini, sampai akhir dari peristiwa ini. Umumnya langkah ini berkisar antara 3-6 langkah, tetapi tidak dibatasi, mengingat setiap peristiwa tentu berbeda.
Contoh: Awalnya adalah salah satu anak (putranya bu Nisa) terserempet sepedah seorang bapak yang melintas. Tidak parah lukanya, tapi perlu dijahit pelipis kanannya dan membuat ibunya luar biasa panik dan marah. Saya jadi terpikir: kan kita punya tanah fasos-fasum yang lumayan luas. Sekitar 250 meter. Kan bisa kita buat arena bermain atau playground gitu yang layak buat anak-anak. Jadi mereka bebas, leluasa bermain. Ndak pikir panjang, besoknya saya menghadap ke pak RT melaporkan peristiwa keserempet itu (kebetulan saya lihat peristiwanya) dan mengusulkan untuk melihat fasos-fasum itu. Pak RT setuju dan kami berdua pergi ke lahan itu. Lahan itu ditumbuhi rumput liar yang tinggi-tinggi dan satu pohon rambutan yang kelihatannya belum pernah berbuah. Memang tidak bisa dipakai untuk bermain. Kotor dan jorok. Saya sampaikan ide-ide saya kepada pak RT tentang gambaran playground itu. Pak Rt kelihatan senang sekali – mungkin karena dia punya cucu kembar yang umurnya hampir 3 tahun. Beliau bilang “Silakan pak, dibuat proposalnya, nanti saya bantu ngomong sama pak RW” Nah, mumpung masih long weekend dan istri sedang pulang kampung nengok mertua, saya buat proposalnya. Saya kerjakan sampai malam. Saya buat gambaran besar dari playground itu (untungnya saya biasa menggambar). Saya juga berdiskusi dengan kepala bagian pertamanan di kompleks tentang perkiraan harga dan jenis tanaman dan alat-alat permainan yang menarik buat anak-anak. Nah, ternyata biayanya lumayan besar. Tapi saya tidak hilang akal. Saya dekati satu persatu para orang tua yang punya anak kecil dan saya ajak untuk “patungan” dalam pembiayaan. Sebagian besar setuju, walaupun ada juga yang bilang “Lah, ngapain. Itu kan tanggung jawab RW dan pertamanan!” – yaudah, yang itu tidak saya approach. Terakhir, proposal saya bereskan dan di bagian pendanaan, saya tulis jelas tentang biaya yang dibutuhkan, dan berapa orang tua yang mau donasi sehingga bisa meng-cover 60% dari biaya yang dibutuhkan. Kemudian saya e-mail kepada pak RW. Dua hari kemudian saya dipanggil untuk pemaparan. Saya ceritakan tentang serempetan itu, dan prediksi kecelakaan akan berulang bila playground tidak dibuat juga. Anak- anak semakin banyak jumlahnya. Dan orang tua rata-rata bekerja. Pak RW menyambut proposal itu. Dan selanjutnya saya tidak terlibat lagi, karena dilimpahkan ke ketua bagian pertamanan. Terakhir saya ditelpon oleh pak RW dan menyampaikan bahwa playground akan segera dibangun. Saya senang sekali Anda bisa menggunakan bullet points, bisa menggunakan cara lain. Yang penting pembaca bisa memahami secara lengkap langkah-langkah PENTING yang Anda lakukan sampai Anda mencapai hasil akhirnya. |
| Apa perasaan Anda ketika sampai pada hasil akhir tersebut? Mengapa? | Ini berisi tentang perasaan Anda atas hasil akhir yang Anda capai dan apa yang membuat Anda merasa begitu. Contoh:
Senang, karena bisa membantu orang tua di RT saya untuk merasa tenang karena playground akan segera dibangun |
| Pelajaran/hikmah apa yang Anda petik dari peristiwa ini? | Ini adalah catatan refleksi Anda pribadi tentang peristiwa tersebut.
Tidak perlu menunggu ada peristiwa untuk memutuskan sesuatu. Mosok harus menunggu ada anak yang keserempet sepedah untuk membuat playground? |
Halaman berikut adalah contoh dari lembar isian di atas, tanpa keterangan.
CONTOH tanpa keterangan:
| Judul peristiwa | EKA berhasil meng-goal-kan proposal playground di kompleks perumahan |
| Durasi peristiwa | Awal Agustus – akhir September 2019 |
| Latar belakang peristiwa | Anak-anak usia TK kebawah belum memiliki arena bermain yang layak. Selama ini anak-anak (yang jumlahnya sekitar 15-20 kanak-kanak) bermain di halaman rumah-rumah warga dan ini bahaya. Sementara kita punya tanah fasos-fasum yang belum dimanfaatkan. |
| Orang-orang yang terlibat | Saya, ketua RT, ketua RW dan dua orang ibu yang sepikiran |
| Hasil akhir dari peristiwa ini | Pembangunan playground disetujui dan akan segera dibangun. |
| Secara berurutan, langkah-langkah penting apa yang Anda lakukan untuk mencapainya
Catatan · Pastikan Anda menggunakan kata “saya” ketika Anda sendirilah yang melakukan hal tersebut. · minimal 350 kata · maksimal 500 kata
|
Awalnya adalah salah satu anak (putranya bu Nisa) terserempet sepedah seorang bapak yang melintas. Tidak parah lukanya, tapi perlu dijahit pelipis kanannya dan membuat ibunya luar biasa panik dan marah.
Saya jadi terpikir: kan kita punya tanah fasos-fasum yang lumayan luas. Sekitar 250 meter. Kan bisa kita buat arena bermain atau playground gitu yang layak buat anak-anak. Jadi mereka bebas, leluasa bermain. Ndak pikir panjang, besoknya saya menghadap ke pak RT melaporkan peristiwa keserempet itu (kebetulan saya lihat peristiwanya) dan mengusulkan untuk melihat fasos-fasum itu. Pak RT setuju dan kami berdua pergi ke lahan itu. Lahan itu ditumbuhi rumput liar yang tinggi-tinggi dan satu pohon rambutan yang kelihatannya belum pernah berbuah. Memang tidak bisa dipakai untuk bermain. Kotor dan jorok. Saya sampaikan ide-ide saya kepada pak RT tentang gambaran playground itu. Pak Rt kelihatan senang sekali – mungkin karena dia punya cucu kembar yang umurnya hampir 3 tahun. Beliau bilang “Silakan pak, dibuat proposalnya, nanti saya bantu ngomong sama pak RW” Nah, mumpung masih long weekend dan istri sedang pulang kampung nengok mertua, saya buat proposalnya. Saya kerjakan sampai malam. Saya buat gambaran besar dari playground itu (untungnya saya biasa menggambar). Saya juga berdiskusi dengan kepala bagian pertamanan di kompleks tentang perkiraan harga dan jenis tanaman dan alat-alat permainan yang menarik buat anak-anak. Nah, ternyata biayanya lumayan besar. Tapi saya tidak hilang akal. Saya dekati satu persatu para orang tua yang punya anak kecil dan saya ajak untuk “patungan” dalam pembiayaan. Sebagian besar setuju, walaupun ada juga yang bilang “Lah, ngapain. Itu kan tanggung jawab RW dan pertamanan!” – yaudah, yang itu tidak saya approach. Terakhir, proposal saya bereskan dan di bagian pendanaan, saya tulis jelas tentang biaya yang dibutuhkan, dan berapa orang tua yang mau donasi sehingga bisa meng-cover 60% dari biaya yang dibutuhkan. Kemudian saya e-mail kepada pak RW. Dua hari kemudian saya dipanggil untuk pemaparan. Saya ceritakan tentang serempetan itu, dan prediksi kecelakaan akan berulang bila playground tidak dibuat juga. Anak- anak semakin banyak jumlahnya. Dan orang tua rata-rata bekerja. Pak RW menyambut proposal itu. Dan selanjutnya saya tidak terlibat lagi, karena dilimpahkan ke ketua bagian pertamanan. Terakhir saya ditelpon oleh pak RW dan menyampaikan bahwa playground akan segera dibangun. Saya senang sekali |
| Apa perasaan tentang hasilnya? Mengapa? | Senang, karena bisa membantu orang tua di RT saya untuk merasa tenang karena playground akan segera dibangun |
| Pelajaran/hikmah apa yang Anda petik dari peristiwa ini? | Tidak perlu menunggu ada peristiwa untuk memutuskan sesuatu. Mosok harus menunggu ada anak yang keserempet sepedah untuk membuat playground? |
Sekarang, silakan menulis peristiwa-peristiwa Anda.
SPS (Sistem Pendaftaran Sekolah) ver 1.0 - SGA 2020